Kalender Astronomi Oktober 2026: Hujan Meteor Draconid, Orionid, dan Saturnus Oposisi
Tim Redaksi - NarasiBangsa

Jakarta - Bagi pencinta langit malam, Oktober 2026 menawarkan beberapa agenda pengamatan yang bisa dinikmati dari Indonesia. Mulai dari Saturnus yang mencapai oposisi hingga dua hujan meteor yang memuncak bulan ini.
Saturnus di posisi terbaik
Saturnus mencapai oposisi, yaitu posisi ketika planet berada berseberangan dengan Matahari jika dilihat dari Bumi. Saat oposisi, Saturnus tampak paling terang dan bisa diamati hampir sepanjang malam. Ini waktu yang baik untuk melihat cincinnya lewat teleskop kecil.
Baca juga: Ilmuwan Temukan Cara Bantu Tubuh Membersihkan "Sel Zombie" Penyebab Penuaan
Hujan meteor Draconid
Draconid memuncak pada 7-9 Oktober, dengan intensitas terbaik pada malam 7 Oktober. Hujan meteor ini berasal dari debu Komet 21P/Giacobini-Zinner. Intensitasnya tergolong kecil, sekitar 10 meteor per jam, dan berbeda dari kebanyakan hujan meteor karena lebih baik diamati di awal malam.
Orionid, sisa debu Komet Halley
Bintang utama bulan ini adalah Orionid, yang memuncak pada malam 21 Oktober hingga dini hari 22 Oktober. Hujan meteor ini terjadi saat Bumi melintasi jalur debu Komet Halley. Meteornya melesat sekitar 66 kilometer per detik dan sering meninggalkan jejak cahaya beberapa detik.
Dalam kondisi ideal, Orionid bisa mencapai sekitar 20 meteor per jam. Namun tahun ini Bulan berada pada fase cembung, sehingga meteor yang redup bisa tersamarkan. Perkiraan jumlah yang terlihat dengan mata telanjang sekitar 5 hingga 10 meteor per jam.
Tips mengamati
Waktu terbaik adalah setelah Bulan terbenam menjelang dini hari. Titik pancar Orionid mencapai posisi tertinggi sekitar pukul 04.00 WIB. Pilih lokasi yang gelap dan jauh dari lampu kota, lalu biarkan mata beradaptasi dengan gelap selama sekitar 20 menit.

